Selasa, 20 November 2018

CERPEN "GAGALNYA CINTA PERTAMA"

   Martabat keluarga wanita ibu bisa hancur hanya karena si wanita itu tidak mendengar ucapan orang tuanya. Akibatnya tergoreslah luka hati yang mendalam bagi wanita itu yang baru saja merasakan cinta pada pandangan pertama. Bukan karena dia tidak cantik, bukan juga karena wanita itu bodoh. Inilah akbiatnya jika seorang anak tidak mendengar ucapan orang tua. 
     Beberapa bulan lalu Rosa, wanita sholehah dan penurut ini masuk sebuah universitas. Keluarganya sangat bangga terhadap anak pertamanya itu. Rosa merupakan anak pertama dari 3 bersaudara, dia memiliki 2 adik perempuan yang bernama Liza dan Fira. Rosa sangat patuh terhadap kedua orang tuanya, dia juga selalu shalat 5 waktu. Salat sunnah puhn mungkin dianggap wajib baginya. Baru dua hari masuk campus dia mulai memperhatikan kakak kelasnya yang menurut anak-anak campus dia cukup tenar, Fuad namanya.
“Rosa, kenapa senyum-senyum sendiri?’ ucap Lia teman baru Rosa. 
“Aah .. eng ... engga, Li gapapa kik” balas rosa 
“Bohong yaaa .... aku tau kamu lagi liatin kak Fuad” 
“Siapa ... siapa namanya?” 
“Ihhhh ... serius banget sih Ros ....” ledek Lia 
“Ahh kamu Li” Bales Ros dengan pipi yang memerah. 
“Dia itu kak Fuad, dan di Campus ini kak Fuad tuh diidolain banyak perempuan, dia sholeh kok. Dia asisten dosen loh ... “ Sambil menyenggol bahu Rosa. 
“Ohh dia Asdos Li... waww” Sambil mencuri pandangan ke Fuad. 
     Begitulah awal ketertarikan Rosa terhadap Fuad. Rosa terus bertanya-tanya tentang Fuad kepada Lia di saat inilah Rosa mulai merasakan cinta pada pandangan pertama yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Namun dia selalu terbayang dengan ucapan kedua orang tuanya yang pernah mengatakan bahwa anak-anaknya tidak diizinkan untuk pacaran, melainkan ta’aruf. Diluar pikiran itu ia pun pernah sesekali berfikir bagaimana rasanya pacaran. 
“Baik, disini asisten saya akan menjelaskan materi yang belum sempat dibahas kemarin” ucap dosen.
“Ros ... Ros liat saiap yang dateng itu?” bisik Lia sambil mencolek Rosa
“Siapa sih ...?” balas Rosa sambil menulis. 
“Kak Fuad” balas Rosa lagi dengan nada sangat semangat. 
Beberapa jam berlalu seluruh mahasiswa/i segera berhamburan keluar, begitu juga dengan Rosa dan Lia. 
“Aduh ....” ucap Rosa sambil membereskan bukunya. 
“Ehh ... sorry ... sorry gapapa kan?” Balas rosa 
“Hey ... you okay?’ sambil menepuk Rosa 
“Ahh ... i ... iya I’m okay.” Balas Rosa yang baru saja tersadar dari lamunannya. 
     Semenjak saat itulah Rosa dan Fuad saling mengenal, bertukar nomor handphone, sering bertemu hingga benih-benih cinta mulai tumbuh diantara mereka. Bagai sekali mendayung 2,3 pulau terlampaui. Impian rosa mulai tercapai satu per satu. Dia mulai pulang telat tanpa mengabarkan kepada orang tuanya. Hingga tiba disuatu sore rosa pulang diantar Fuad. Lelaki tampan, sholeh itu berdiri tepat di depan rumah Rosa. 
“Rosa, masuk kedalam.” Bentak ayahnya dengan lantang. 
“Iiiya yah ... kamu hati-hati ya.” 
“Iya Ros, om saya pamit. Assalamu’alaikum ...” ucap Fuad dengan takut. 
Merah padam wajah ayah Rosa melihat Rosa mulai liar dengan laki-laki tidak dikenal itu. 
“Siapa laki-laki tadi? Sudah pulang telat” Bentak ayah Rosa. 
“Iittuu ... tadi teman aku pah, tapi kita mulai dekat akhir-akhir ini. Dia juga sholeh kok Pah, Dia asisten dosen juga” jelas Rosa. 
“Papah gak peduli, mau dia asisten dosen, pintar, sholeh atau apapun itu, kalau dia sholeh gak mungkin dia ngajak kamu main sampai lupa waktu begini.” 
Berlinang air mata Rosa, hatinya pun mulai tergores ucapan pedas ayahnya. Dia fikir jatuh cinta pandangan pertama ini akan mengesankan ditambah dengan kedua orang tuanya yang selalu mendukung apapun yang ia lakukan. Namun impian-impian itu mulai sirna karena ketidaksetujuan kedua orang tua Rosa. Dia terlalu jatuh hati pada sosok Fuad. Akhirnya dia memutuskan untuk backstreet. 6 bulan sudah hubungan tersembunyi mereka berjalan baik. Waktu Rosa semakin sedikit untuk keluarga, keluarga pun melihat perubahan itu tapi kelaurga Rosa masih menaruh kepercayaan kepada Rosa. Hingga suatu hari hubungan Fuad dan Rosa mulai renggang. 
“Kak Fuad, kamu jarang banget jemput aku?” Ucap Rosa dengan manja. 
“Rosa, aku mau ngomong sesuatu.” Balas Fuad dengan wajah cemas 
“Ngomong apa kak?” 
“Aku mau kita putus, aku udah gabisa backstreet kaya gini dan aku juga udah punya cewe baru.” Ucapnya dengan tegas. 
“Kamu ngomong apa sih kak? Kamu dah bosen sama aku? Jawab kak ... jawab? 
Hubungan ini kan kamu yang mulai.” Balas Rosa dengan derasnya air mata yang terjatuh. 
    Ucapan Fuad sudah sangat jelas bahwa dia bosan dan ingin mengakhiri semuanya. Hati rosa sangat hancur berkeping-keping mendengar pernyataan Fuad. Padahal dia sudah memberanikan diri membangkang kepada kedua orang tuanya demi hubungan impian ini. Berhari-hari Rosa bolos ke kampus karena terlalu sakit raga Rosa untuk dibawa beraktifitas. 
“Kamu sudah 2 hari tidak ke kampus, kenapa Rosa?” selidik Ibunya. 
“Mahh maafin aku, aku tetap melanjutkan hubungan ini dengan Fuad selama ± 6 bulan. Sampai akhirnya hubungan ktia kandas 2 hari kemarin dengan alasan dia bosan dan tidak bisa melanjutkan ini semua. Dia juga sudah punya pengganti ku Mah ....” Jelas rosa kepada sang ibu dengan derasnya air mata serta erat pelukannya.
“Mamah tahu semua itu nak ... kamu anak mamah .... amah yang melahirkanmu ...” ucap Ibunya dengan lembut. 
“Aku malu mah ... tidak mendengar setiap ucapanmu dan menganggap kau tidak adil ... aku terlalu terobsesi meniru perilaku ABG-ABG sekarang.” Jelas Rosa lagi 
“Iya Mamah paham ... tapi sekarang kamu paham kan ... mengapa Mamah sangat teliti memilih Pria yang cocok untukmu? Karena jatuh cinta pada pandangan pertama tidak selalu berjalan mulus.” Ucap Ibunya dengan mencolek hidup Rosa dengan mesranya. 
     Hari itu Rosa merasa raga dan hatinya telah bangkit lagi. Dia mulai melupakan Fuad cinta pertamanya yang gagal. Dia hanya menjalani hidup seperti biasanya. Setelah beberapa tahun, akhirnya Rosa pun wisuda. Ia mulai melamar pekerjaan pekerjaan di setiap sekolah, hingga akhirnya Rosa diterima di sekolah Pusaka Nusantara. Sekolah swasta yang cukup terkenal, hingga dihari pertama ia ditabrak oleh seorang guru baru. 
“Aduh ...” keluh Rosa sambil merapihkan buku-bukunya yang berserakan. 
“Maaf-maaf saya tidak sengaja, you akay?” ucap Fauzobihi dengan lembut. 
“emm ... ya ... ya I’m okay.” Jawab Rosa yang segera sadar dari lamunannya. 
“Aku Fauzobihi ... panggil aja Bihi.” 
“Iya .. Bihi aku Rosa, boleh panggil Ros atau Oca hehe.” Ucap Rosa dengan salah tingkah. 
“Kamu guru disini? Guru apa?” tanya Bihi mencairkan suasana. 
“Aku kebetulan ngajar Biologi ... ini hari pertama ku.” 
“Ohh really? Aku disini juga ngajar Biologi dan ini juga hari pertamaku.” Ucap Bihi dengan terkejut dan tertawa. 
“Oh ya?” tanya Rosa dengan bingung 
“Ya ros ... ayo kita ke ruangan Kepalaa Sekolah bareng dan memberi laporan kalau kita siap ngajar hari ini.” Ucap Bihi dengan penuh semangat sambil menarik tangan Rosa. “iiya .. ayo Bi ...” jawab Rosa dengan malu 
“Apakah dengan pertemuan yang sama akan berakhir dengan sama pula?” Gumam Rosa tanya dirinya sendiri. 
“Kita lihat saja nanti.” Gumam Rosa lagi sambil berjalan mengikuti tarikan tangan Bihi.

1 komentar: